Suatu saat
saya ditanya bapak saya sebelum berangkat kekampus.
Bapak : De’ kalau kekampus lewat mana?
Saya :
Lewat Cicaheum pak, kenapa gitu pak?
Bapak : Kalau aman mending motong jalan lewat pinggir
borma, nanti keluarnya di kircon.
Saya : Iya, pak.
Selesai berbincang-bincang dengan bapak saya, saya langsung
berpamitan berangkat kekampus. Sepanjang jalan saya berpikir, mau lewat caheum
atau motong jalan lewat pinggir borma toh sama sampainya sejam. Saya lurus
menuju caheum. Sampai di tempat kuliah. Kegiatan ini berulang kali dilakukan,
setiap pergi kekampus saya melewati caheum.
Suatu hari, dimana saya sedang UTS. Tepatnya hari keempat,
saya berangkat jam 07.30 dari rumah berpamitan kepada orangtua saya. Hari itu
saya merasa sudah sangat telat , karena biasanya saya pergi satu jam sebelum
mata kuliah dimulai. Saya terburu-buru berangkat kekampus, saya pikir keburu
untuk sampai kampus ½ jam. Saya berangkat lewat cipadung, lurus terus ke
ujungberung, lurus lagi ke pasir impun, lurus terus suka miskin, waktu didaerah
caheum mulai macet. Saya lihat jam, sudah menunjukkan pukul 07.50. Saya kaget,
10menit lagi. Mungkin bisa keburu 10 menit sampai kekampus. Saya nyelip-nyelip,
akhirnya di pertigaan ke jalan cicadas lowong. Saya ngebut dari situ, belok
kekanan perempatan kircon. Lampu merah, nunggu lampu merah. Nyelip-nyelip
kedepan, saya berpikir biasanya jam segini pembatas dari bebatuan terbuka,
karena belum ada lajur angkot. Saya beloklah lewat pembatas yang dari bebatuan
itu. Waktu saya belok saking saya terburu-buru dan membuat saya tidak
konsentrasi lihat jalanan. Saya tabrak batu pembatas itu, saya mengerem mendadak
depan belakang, dada saya terbentur stang motor, dan sayapun terjatuh kesebelah
kanan. Orang yang lalu lalang hanya melewat saja tidak ada yang membantu
satupun, akhirnya ada seorang bapak keluar dari tempat kerjanya langsung
membantu saya. Saya digiring masuk ke
dalam tempat kerja, travel pemberangkatan Haji dago.
Ada 2 orang anak SMK yang sedang PKL dan seorang ibu di
tempat itu, mereka membantu saya mengobati luka di dekat matakaki saya sebelah
kanan dan lutut saya. Seorang bapak yang menolong saya tadi bertanya, kuliah
dimana neng? Saya menjawab di Amik pak. Ini lagi buru-buru soalnya mau UTS.
Hubungin coba bapaknya neng. Iya pak.
Bapak dan ibu saya datang setelah saya hubungi sebelumnya,
saya di bawa ke RS. Santo Yusuf. Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit saya
berpikir, “mungkin ini akibatnya saya tidak mengikuti saran bapak saya”.
Keesokan harinya saya langsung mengikuti UTS diantar bapak saya. Dari kejadian
itu saya selalu lewat motong jalan, seperti yang bapak saya sarankan sampai
sekarang.
Bandung,
01 maret 2013
Isnia
Septianne Fauzy
1201007
SCL-054
No comments:
Post a Comment